Jumat, 06 Februari 2009

Tentang Khotbah Kematian

“Di dalam kubur nanti, kita sendirian, tanpa teman. Kita hanya ditemani oleh cacing tanah dan juga gelapnya liang kubur yang ukurannya hanya pas dengan badan kita masing-masing. Berbeda dengan rumah yang kita huni saat ini. Betapa mengerikan dan menakutkan tinggal di liang kubur itu”

Alinea di atas adalah penggalan khotbah Jumat yang disuarakan oleh khotib di atas mimbar siang tadi. Saya yang sudah semi ngantuk menjadi geragapan mendengar khotib membacakan petikan alinea di atas. Saya tersadar dari buaian ngantuk yang hampir saja menidurkan saya di dalam masjid yang berjarak 200-an meter dari rumah saya.

Saya heran dengan kata-kata pak khotib itu, ada yang aneh, ada yang janggal. Pertama, apa beliau pernah mati sehingga bisa menceritakan gelapnya alam kubur. Kalau memang pernah mati kemudian hidup lagi sih saya bisa menerima uraian beliau. Masalahnya beliau masih belum memiliki pengalaman yang mumpuni untuk menceritakan gelapnya alam kematian, termasuk bagaimana tubuh kita digerogoti cacing tanah dan juga belatung. Pengalaman yang mumpuni tersebut adalah pernah mati sehingga ceritanya valid dan bukan sekedar baca buku apalagi ngarang, bukan sekedar meneruskan cerita dari mulut ke mulut yang selama ini beredar luas dan seringkali menyesatkan umat yang terlanjur taklid kepada beliau.

Kejanggalan kedua, bukankah ketika di alam kubur jasad kita sudah mati. Jadi bagaimana mungkin jasad kita bisa merasakan gelapnya liang kubur tersebut. Bagaimana kita bisa merasakan sempitnya ukuran liang kubur tersebut. Dan bagaimana kita bisa tahu sekaligus merasakan bahwa kita hanya ditemani oleh cacing tanah dan juga belatung yang menghancurkan tubuh kita. Persoalannya kemudian adalah, betapa mengerikannya kalau sampai kita bisa merasakan semua yang pak khotib ceritakan tersebut.

Lalu, kejanggalan ketiga, pak khotib ini ternyata masih ahli duniawi. Buktinya beliau membandingkan sempitnya liang kubur yang hanya pas seukuran tubuh dengan rumah tempat kita tinggal. Di sini letak keanehannya, bagaimana mungkin seorang yang nampaknya sudah pasrah kepada Allah, yang hampir setiap Jumat selalu berkoar-koar tentang pentingnya hidup sederhana dan ikhlas menjalani hidup sebagai jalan menuju Allah, lalu pemikirannya masih terkungkung dengan besar-kecilnya rumah. Masih terikat dengan ukuran-ukuran duniawi yang masih menghendaki hidup nyaman secara lahiriah saja.

Bukankah kedamaian dapat dirasakan dimana saja kita tinggal dan berada. Tidak perlu rumah besar untuk bisa merasakan indahnya hidup ini. Dan sebaliknya tidak perlu tinggal di rumah yang sangat sempit untuk sekedar merasakan susahnya hidup di dunia. Susah senang, sedih bahagia tidak bergantung kepada ukuran tempat tinggal kita. Semua tergantung kepada cara pandang kita yang mendorong keikhlasan menjalani hidup sesuai dengan yang telah digariskan oleh Allah. Sederhana bukan ?

Lalu sayapun bertanya dalam hati “Kalau khotibnya kaya gitu, lalu gimana umatnya?” Saya iseng-iseng mengutak atik dan menganyam pikiran saya sendiri tentang indahnya kematian. Sebab bagi saya kematian adalah sebuah awal dari proses kehidupan selanjutnya. Kematian bukan berarti apa-apa bagi saya, kematian hanyalah satu proses kecil dimana manusia berpindah alam. Persis seperi saat kita tiba-tiba terkulai tidur lelap tanpa tahu secara tepat saat terlelap tadi itu jam berapa dan di dekat kita ada siapa, sedang hujan atau angin dan lain sebagainya. Kita langsung berpindah dari alam dunia ke alam tidur yang membuat kita kadang-kadang bermimpi dan kadang juga tidak bermimpi. Semuanya terjadi begitu saja dan tanpa melewati rumitnya proses seperti yang sering digambarkan oleh sementara kalangan selama ini.

Ya, sesederhana itu. Maka dari itu ada yang bilang bahwa tidur itu sebagai latihan untuk mati. Artinya, jika kita telah terbiasa tidur dengan benar, mulai persiapan hingga bangun tidur lagi, mati itu bukan persoalan besar. Tidak harus terkait dengan khusnul khotimah pun juga su’ul khotimah, terlalu tinggi untuk sampai pada persoalan itu. Mati ya mati saja, tidak perlu kuatir akan gelapnya alam kubur atau membayangkan jijiknya ditemani cacing tanah, Allah rohman wa arrohim.

Sudahlah manut Allah saja, pasti enak, tidak perlu kita mengarang, membayangkan, merangkai, mengolah pikir kita sehingga kematian selalu kita anggap sebagai sesuatu yang mengerikan dan sebaliknya kelahiran selalu dianggap membahagiakan. Padahal jika mau lebih total dalam merenung, tidak ada istimewanya antara kelahiran dan kematian. Semua terjadi begitu saja lewat “Kun”-nya Allah. Tidak perlu kita meminta penjelasan yang ilmiah apalagi yang tidak ilmiah menyangkut segala fenomena yang kita hadapi. Sebab dengan terlalu seringnya kita menuntut hadirnya sebuah penjelasan maka kitapun dituntut untuk bisa lebih diam, lebih tenang, lebih tidak ngember sana sini. Ini bukan pekerjaan ringan bagi sebagian orang. Sebab setiap orang memiliki kecenderungan untuk menceritakan setiap pengalaman yang dialaminya. Ini yang harus dihindari bila ingin sering diperlihatkan rahasia-rahasia Allah.

Catatan berikutnya adalah kehati-hatian dalam berkomentar, dalam menelaah lalu menyampaikan kembali kepada khalayak setiap buku yang kita baca. Pelajaran berharga saya petik dari pak khotib yang baru saja mengulas tentang kematian tadi. Pertama, saya tidak akan membahas atau membicarakan sesuatu yang saya sendiri tidak paham, sebisa mungkin saya akan menahan diri untuk tidak berkomentar. Daripada salah, daripada ditertawakan semut, cacing dan belatung. Kedua, umat perlu pemuka yang bukan saja pandai dalam bercerita, tapi pemuka yang memiliki pengalaman yang nyata, sehingga setiap kalimat yang meluncur dari mulutnya bisa benar-benar dirasakan sebagai sebuah KEBENARAN, bukan sekedar cerita untuk menakut-nakuti pun juga cerita yang membuai angan umat. Dan terakhir, jadi umat pun ternyata sulit juga ya.

Kajang, 30 Januari 2009
15:04 WIB

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar