Jumat, 06 Februari 2009

Tentang Khotbah Kematian

“Di dalam kubur nanti, kita sendirian, tanpa teman. Kita hanya ditemani oleh cacing tanah dan juga gelapnya liang kubur yang ukurannya hanya pas dengan badan kita masing-masing. Berbeda dengan rumah yang kita huni saat ini. Betapa mengerikan dan menakutkan tinggal di liang kubur itu”

Alinea di atas adalah penggalan khotbah Jumat yang disuarakan oleh khotib di atas mimbar siang tadi. Saya yang sudah semi ngantuk menjadi geragapan mendengar khotib membacakan petikan alinea di atas. Saya tersadar dari buaian ngantuk yang hampir saja menidurkan saya di dalam masjid yang berjarak 200-an meter dari rumah saya.

Saya heran dengan kata-kata pak khotib itu, ada yang aneh, ada yang janggal. Pertama, apa beliau pernah mati sehingga bisa menceritakan gelapnya alam kubur. Kalau memang pernah mati kemudian hidup lagi sih saya bisa menerima uraian beliau. Masalahnya beliau masih belum memiliki pengalaman yang mumpuni untuk menceritakan gelapnya alam kematian, termasuk bagaimana tubuh kita digerogoti cacing tanah dan juga belatung. Pengalaman yang mumpuni tersebut adalah pernah mati sehingga ceritanya valid dan bukan sekedar baca buku apalagi ngarang, bukan sekedar meneruskan cerita dari mulut ke mulut yang selama ini beredar luas dan seringkali menyesatkan umat yang terlanjur taklid kepada beliau.

Kejanggalan kedua, bukankah ketika di alam kubur jasad kita sudah mati. Jadi bagaimana mungkin jasad kita bisa merasakan gelapnya liang kubur tersebut. Bagaimana kita bisa merasakan sempitnya ukuran liang kubur tersebut. Dan bagaimana kita bisa tahu sekaligus merasakan bahwa kita hanya ditemani oleh cacing tanah dan juga belatung yang menghancurkan tubuh kita. Persoalannya kemudian adalah, betapa mengerikannya kalau sampai kita bisa merasakan semua yang pak khotib ceritakan tersebut.

Lalu, kejanggalan ketiga, pak khotib ini ternyata masih ahli duniawi. Buktinya beliau membandingkan sempitnya liang kubur yang hanya pas seukuran tubuh dengan rumah tempat kita tinggal. Di sini letak keanehannya, bagaimana mungkin seorang yang nampaknya sudah pasrah kepada Allah, yang hampir setiap Jumat selalu berkoar-koar tentang pentingnya hidup sederhana dan ikhlas menjalani hidup sebagai jalan menuju Allah, lalu pemikirannya masih terkungkung dengan besar-kecilnya rumah. Masih terikat dengan ukuran-ukuran duniawi yang masih menghendaki hidup nyaman secara lahiriah saja.

Bukankah kedamaian dapat dirasakan dimana saja kita tinggal dan berada. Tidak perlu rumah besar untuk bisa merasakan indahnya hidup ini. Dan sebaliknya tidak perlu tinggal di rumah yang sangat sempit untuk sekedar merasakan susahnya hidup di dunia. Susah senang, sedih bahagia tidak bergantung kepada ukuran tempat tinggal kita. Semua tergantung kepada cara pandang kita yang mendorong keikhlasan menjalani hidup sesuai dengan yang telah digariskan oleh Allah. Sederhana bukan ?

Lalu sayapun bertanya dalam hati “Kalau khotibnya kaya gitu, lalu gimana umatnya?” Saya iseng-iseng mengutak atik dan menganyam pikiran saya sendiri tentang indahnya kematian. Sebab bagi saya kematian adalah sebuah awal dari proses kehidupan selanjutnya. Kematian bukan berarti apa-apa bagi saya, kematian hanyalah satu proses kecil dimana manusia berpindah alam. Persis seperi saat kita tiba-tiba terkulai tidur lelap tanpa tahu secara tepat saat terlelap tadi itu jam berapa dan di dekat kita ada siapa, sedang hujan atau angin dan lain sebagainya. Kita langsung berpindah dari alam dunia ke alam tidur yang membuat kita kadang-kadang bermimpi dan kadang juga tidak bermimpi. Semuanya terjadi begitu saja dan tanpa melewati rumitnya proses seperti yang sering digambarkan oleh sementara kalangan selama ini.

Ya, sesederhana itu. Maka dari itu ada yang bilang bahwa tidur itu sebagai latihan untuk mati. Artinya, jika kita telah terbiasa tidur dengan benar, mulai persiapan hingga bangun tidur lagi, mati itu bukan persoalan besar. Tidak harus terkait dengan khusnul khotimah pun juga su’ul khotimah, terlalu tinggi untuk sampai pada persoalan itu. Mati ya mati saja, tidak perlu kuatir akan gelapnya alam kubur atau membayangkan jijiknya ditemani cacing tanah, Allah rohman wa arrohim.

Sudahlah manut Allah saja, pasti enak, tidak perlu kita mengarang, membayangkan, merangkai, mengolah pikir kita sehingga kematian selalu kita anggap sebagai sesuatu yang mengerikan dan sebaliknya kelahiran selalu dianggap membahagiakan. Padahal jika mau lebih total dalam merenung, tidak ada istimewanya antara kelahiran dan kematian. Semua terjadi begitu saja lewat “Kun”-nya Allah. Tidak perlu kita meminta penjelasan yang ilmiah apalagi yang tidak ilmiah menyangkut segala fenomena yang kita hadapi. Sebab dengan terlalu seringnya kita menuntut hadirnya sebuah penjelasan maka kitapun dituntut untuk bisa lebih diam, lebih tenang, lebih tidak ngember sana sini. Ini bukan pekerjaan ringan bagi sebagian orang. Sebab setiap orang memiliki kecenderungan untuk menceritakan setiap pengalaman yang dialaminya. Ini yang harus dihindari bila ingin sering diperlihatkan rahasia-rahasia Allah.

Catatan berikutnya adalah kehati-hatian dalam berkomentar, dalam menelaah lalu menyampaikan kembali kepada khalayak setiap buku yang kita baca. Pelajaran berharga saya petik dari pak khotib yang baru saja mengulas tentang kematian tadi. Pertama, saya tidak akan membahas atau membicarakan sesuatu yang saya sendiri tidak paham, sebisa mungkin saya akan menahan diri untuk tidak berkomentar. Daripada salah, daripada ditertawakan semut, cacing dan belatung. Kedua, umat perlu pemuka yang bukan saja pandai dalam bercerita, tapi pemuka yang memiliki pengalaman yang nyata, sehingga setiap kalimat yang meluncur dari mulutnya bisa benar-benar dirasakan sebagai sebuah KEBENARAN, bukan sekedar cerita untuk menakut-nakuti pun juga cerita yang membuai angan umat. Dan terakhir, jadi umat pun ternyata sulit juga ya.

Kajang, 30 Januari 2009
15:04 WIB

Ada Senandung Tembang Jawa di Palung Memori Saya

Di radio sedang berkumandang tembang-tembang Jawa. Eh…meskipun gak bisa mengikuti semua liriknya ternyata nyaman juga mendengarkan tembang-tembang tersebut. Tenang rasanya di dalam hati.

Bukan berarti anti terhadap lagu-lagu pop, top 40, reggae, hip hop yang yo yo kamu ada dimana yo…itu, pun juga musik rock, metal dan lain sebagainya. Hanya saja…at home begitu deh rasanya. Dan, terpenting, ternyata saya tidak pernah kehilangan ke-Jawaan saya meski telah sekian tahun berdesakan dengan segala macam kemodernan yang sedikit banyak memberangus budaya Jawa, salah satunya ya tembang-tembang kaya gini nih.

Benar kata orang bijak jaman dulu yang bilang bahwa dasar selalu menang melawan ajar. Analogi ekstremnya, sekali monyet tetaplah monyet. Mau diajari sedemikian kerasnya, mulai dari cara berpakaian, belajar makan nasi dengan lauk pauk lengkap seperti manusia hingga belajar membaca abjad, tetapi bila sudah bertemu dengan pisang maka dia akan berlari merebut pisang tersebut.

Ini cocok dengan keadaan saya saat mendengarkan tembang-tembang Jawa yang mengudara lewat sebuah stasiun radio saat ini. Meski di memori saya lebih banyak terisi lagu-lagu Samson, Peter Pan, Ungu, ST 12, Drive, Gigi serta penyanyi lain yang lagunya easy listening, ternyata di palung memori saya masih menginginkan tembang-tembang Jawa lebih dari yang lain.

Artinya lagi…
Sesibuk apapun, segila kerja apapun, setidak ingat apapun kita, sebenarnya selalu ada rumah tempat kita pulang, istri tempat kita berbagi, anak tempat kita mencurahkan kasih sayang. Persis seperti kata pepatah “Sehebat apapun perahu berlayar, dia tetap perlu dermaga untuk melempar sauh”. Sejauh apapun perahu berlayar, dia tetap perlu dermaga untuk melepas lelah sebelum melanjutkan pada petualangan berikutnya.

Peran dermaga menjadi penting, sebab dermaga menyediakan bukan hanya tempat beristirahat. Namun juga menyediakan beraneka macam kebutuhan yang diperlukan dalam menghadapi pelayaran berikutnya. Di dermaga, ABK dapat memenuhi segala kebutuhannya mulai dari air bersih, bahan makanan, bahan bakar, hingga kebutuhan untuk refresh sebelum bergulat lagi dengan ombak lautan yang seringkali menjemukan. Di dermaga pula segala macam bentuk kerusakan perahu dapat diperbaiki sehingga siap menghadapi tantangan gelombang di laut lepas.

Ini memberikan pelajaran kepada kita bahwa kemanapun kita pergi, sejauh apapun kita melangkah, sehedonis apapun kita menjalani hidup ini, pasti ada sebuah masa dimana kita tiba-tiba menjadi sangat religius. Tiba-tiba kita merasa rindu dengan pembuat kita. Tiba-tiba kita merasa kehampaan datang menyerang dengan begitu hebatnya. Tiba-tiba semua yang kita upayakan menjadi tidak berarti. Tiba-tiba kita merasa rapuh. Tiba-tiba kita merasa apa yang kita kenakan adalah bungkus kebohongan belaka, semu belaka. Tiba-tiba kita merasa terpanggil untuk selalu menyebut dan mengakui keagungan-Nya.

Perkara macam ini bisa terjadi begitu saja. Seringkali tanpa sebab besar. Bisa jadi hanya karena kebosanan menjalani rutinitas hidup atau menemui pemantik-pemantik lain yang sungguh sangat sederhana. Misalnya saja bertemu peminta-minta, mendapati kenyataan perang antar etnis, membezuk orang sakit, takziyah tetangga yang meninggal dan lain sebagainya. Jadi tidak harus selalu mengalami persoalan besar sebelumnya untuk bisa merasakan kita ada karena-Nya.

Lalu apa yang sebaiknya dilakukan saat menghadapi masa seperti itu ? Seorang sahabat yang telah mencurahkan sebagian besar waktunya untuk menelaah permasalahan semacam ini bilang “Segeralah bertobat, segeralah mengambil air suci untuk membasuh semua luka dan kotoran yang selama ini menempel sedemikain lekat di tubuh kita, segeralah menyeimbangkan kebutuhan hidup” Dia lalu menambahkan “Beruntunglah orang yang sempat diberikan kesempatan kedua untuk kembali kepada Sang Pencipta, sebab tidak semua orang beroleh kesempatan semacam itu, tidak semua orang menjadi terpilih semacam itu, tidak semua orang diberikan kemampuan untuk bangkit dari kesalahan secara berulang-ulang, hanya orang yang terpilih, ya… hanya orang yang terpilih yang diberikan kebisaan semacam itu”

Kembali ke persoalan tembang Jawa yang ngangeni palung memori saya, saya semakin yakin bahwa tidak ada yang salah dalam setiap keputusan yang kita ambil dalam hidup ini. Yang ada hanyalah rangkaian pilihan, untuk menjadi ini dan menjadi itu, itupun atas ijin-Nya pula. Artinya, segala bentuk penyesalan serta derai air mata yang sering menimpa kita dan juga saudara kita adalah sebentuk misteri, misteri Illahi yang tidak akan pernah terpecahkan sampai kapanpun. Kita hanya bisa menafsirkan sesuai dengan kadar knowledge yang dikaruniakan kepada kita. Boleh jadi kita akan dianggap sebagai orang yang paling bodoh di dalam komunitas A, namun dalam komunitas lain kita akan diukur dengan cara yang berbeda.
Persis seperti nada-nada dalam tembang Jawa yang sedemikian dibenci oleh segolongan orang karena dianggap tidak modern dan jadul namun begitu dirindukan oleh sebagian yang lain, termasuk… saya tentunya.

Pratama, 20 Januari 2009
22:32 WIB

Seikat Bayam, Sepotong Tempe dan Seorang Madoff

Senin pagi, jam dinding menunjukkan pukul 06.05 WIB. Dari luar rumah terdengar teriakan yu Poni, mlijo (penjual sayur) yang biasa melayani kebutuhan warga perumahan kami. “Belanja bu” teriak Yu Poni lantang, antara bertanya dan berharap.

Hari Minggu kemarin, Ibu mertua yang beberapa minggu terakhir selalu berinteraksi dengan yu Poni sedang ke Jakarta. Sementara istri saya yang baru saja melahirkan anak ke tiga kami bulan lalu masih terlihat pulas setelah hampir semalaman begadang meninabobokan bayi kecilnya. Jadinya, saya sendiri yang harus berhadapan dengan yu Poni “Iya yu, tunggu sebentar” jawab saya dari dalam rumah.

Saya sempat berbincang dengan istri sejenak setelah saya bangunkan untuk memastikan mau belanja apa hari itu. Istri saya minta seikat bayam yang akan dimasak sayur bening dan sepotong tempe yang rencananya akan digoreng kering kesukaan kami sekeluarga. Perlahan saya hampiri yu Poni di teras rumah, “Bayam sama tempe yu” pinta saya.

Yu Poni melayani pesanan saya dengan cekatan. Tidak sampai 2 menit sudah terbungkus rapi dalam tas plastik warna kuning muda transparan. Setelah saya terima sayapun menanyakan berapa uang yang harus saya bayar untuk dua jenis barang tersebut “Sedoyo kaleh ewu pak” jawabnya dalam bahasa Jawa kromo yang artinya bahwa belanjaan saya seharga 2 ribu. Seribu untuk seikat bayamnya dan seribu lagi untuk tempenya. Dan ketika saya pastikan soal harga tadi ke istri saya dia malah bilang bahwa biasanya seikat bayam cuma lima ratus rupiah, hari-hari ini agak mahal karena musim hujan daunnya banyak yang rusak sehingga harganya pun naik menjadi seribu rupiah.

Saya tertegun tidak percaya, sebab memang baru kali ini saya belanja secara langsung. Pekerjaan saya paling banter mengantar istri ke pasar tanpa pernah tahu harga barang yang dibeli oleh istri. Dan kali ini saya dibuat kaget oleh harga yang harus saya bayar. Murah sekali harga sayur bayam dan tempe tadi. Dan biasanya itu sudah cukup dikonsumsi 2 kali makan untuk 3-4 orang dalam keluarga kami.

Kemudian saya teringat kepada kondisi ekonomi global yang katanya sedemikian parahnya sehingga hampir semua harga barang berlomba saling mendahului untuk naik, naik dan naik. Saya juga teringat cerita lewat milis, beberapa teman SMA yang tinggal di Jakarta menulis tentang betapa struggle-nya bertahan hidup di Jakarta hari-hari ini. Harga kebutuhan pokok melejit tak tertahan, kebutuhan hidup memaksa siapapun tidak hanya mengencangkan ikat pinggang namun mengganti ikat pinggangnya menjadi semakin besar dan kuat.

Lalu saya juga teringat dengan kisah Bernard Madoff, seorang Yahudi yang ketahuan menipu orang-orang kaya terkenal, bahkan beberapa badan amal dia tipu juga. Tidak kurang dari Steven Spielberg, Kevin Bacon serta sederet nama artis beken Hollywood banyak yang menjadi korbannya. Dan yang lebih mencengangkan adalah tertipunya beberapa institusi keagamaan di Amerika. Ajaib memang. Konon nilainya mencapai sekitar 600 triliun rupiah. Konon juga metodenya adalah metode ponzi yang di Indonesia (Jatim) sudah terkenal lebih dulu dengan kasus pomas (pohon mas) yang membuat salah seorang Pembantu Rektor Universitas Negeri Malang terpaksa lengser dari jabatannya pada saat itu.

Madoff dan pomas motifnya sama, menjanjikan sekian persen keuntungan dari uang yang diinvestasikan oleh para anggotanya. Nilainya jauh diatas aktifitas ekonomi riil tentunya, sehingga banyak yang tergiur untuk gabung. Teknisnya anggota baru memberikan keuntungan kepada anggota lama. Semakin banyak orang atau badan yang mendaftar menjadi anggota maka keuntungan yang didapat oleh anggota terdahulu akan semakin besar. Demikian seterusnya, dan tanpa disadari pada titik yang ke sekian keanggotaan menjadi jenuh sehingga Madoff tidak bisa lagi merekrut anggota (korban) baru.

Inilah awal bencana bagi semuanya. Sebab Madoff tidak pernah menginvestasikan uang para korbannya dalam bisnis riil. Madoff hanya yakin anggota akan terus bertambah dan bertambah tanpa pernah berhenti. Pada kenyataannya ? Bayangan para anggotanya untuk mendapatkan untung ribuan bahkan jutaan dollar hanya tinggal kenangan. Mereka kehilangan uang serta mendapatkan rasa malu yang luar biasa. Malu ? Ya, sebab mereka rata-rata adalah publik figur, mereka kesana kemari selalu menjadi perhatian publik. Bahkan beberapa diantaranya adalah rabbi yahudi yang dianut oleh ribuan jamaahnya, selain itu mereka juga terkenal kecerdasaannya, ya semacam pak Zainudin MZ lah kalau di Indonesia, itu pun bisa tertipu oleh Madoff.

Antara nasabah Madoff dan pomas terdapat kesamaan yang sangat alami. Yaitu sama-sama ingin untung besar tanpa keluar keringat. Sama-sama mau enaknya tanpa mau capeknya. Sama-sama rakus kepada uang. Sama-sama diliputi kekhawatiran tidak bisa hidup enak dan tenang jika tidak memiliki jaminan uang segunung dalam tabungannya. Sama-sama tertipu oleh gebyar dunia semu yang memabukkan. Sama-sama ingin memiliki gaya hidup yang membuat mereka bisa dihargai oleh sesama manusia. Dan, pada akhirnya sama-sama tertipu oleh angan-angannya sendiri.

Lalu apa kaitan antara bayam, tempe dan Madoff ?
Secara langsung bisa jadi tidak ada. Itu menjadi semacam refleksi saja bahwa gaya hidup glamour yang selama ini jamak kita jumpai pemunculannya di beberapa media bukanlah cara yang tepat untuk dianut. Gampangnya, dengan gaya hidup normal tanpa paksaan mendongak ke atas sebenarnya kita selalu bisa memenuhi kebutuhan hidup sehari-hari. Tanpa tumpukan rupiah apalagi dollar kita tetap bisa bertahan hidup. Syaratnya cuma satu, mau bekerja dan bergerak menjemput rejeki yang telah ditebar sedemikian luas oleh Sang Kreator alam raya ini. Gampang kan ?

Jadi tidak perlulah berpikir terlalu jauh dengan memiliki keinginan menumpuk uang setinggi gunung hanya untuk sekedar makan enak, tidur nyenyak dan dihargai orang banyak. Meski bagi sebagian orang itu benar, namun tidak sedikit pula yang merasa bahwa kaya itu menyiksa. Siapa bilang kaya itu enak ? Yang berpikir seperti itu pasti tidak pernah kaya. Menjadi kaya itu harus siap lahir batin, sebab kalau tidak siap akan berbahaya bagi dirinya serta keluarganya.

Kita telah memiliki pola dan gaya hidup yang khas, berbeda dengan orang barat misalnya. Memaksakan diri mengikuti gaya hidup mereka justru akan membuat kita hidup di dunia semu. Sebulan dua bulan, setahun dua tahun bisa jadi tidak jadi soal. Artinya kita bisa tahan berpura-pura menikmatinya. Namun, lama kelamaan kita pasti memiliki kecenderungan untuk kembali kepada pola dan gaya hidup yang telah sejak kecil mewarnai hidup kita. Ada semacam titik kebosanan (jenuh) yang akan menyerang kita dengan hebat.

Hidup wajar, ya, orang pintar biasa menyebutnya dengan hidup wajar. Artinya pola dan gaya hidup kita sesuaikan dengan yang ada. Income berapa belanja berapa harus disesuaikan. Tinggal dimana, bertetangga dengan siapa perlu menyesuaikan. Dalam acara apa, bersama siapa harus bisa menempatkan diri secara tepat.

Ingin kaya boleh-boleh saja. Tapi semua ada caranya. Semua ada biaya yang harus kita bayar. Mungkin keringat yang mengucur lebih deras, mungkin waktu istirahat yang hanya sedikit atau bahkan tidak ada sama sekali. Mungkin pula resiko kesehatan fisik dan mental. Semuanya harus secara dewasa kita hadapi dalam setiap jejak langkah manjadi kaya. Bukan hanya dengan bermimpi tanpa pernah beranjak dari rumah lalu menggerakkan jari jemari.

Intinya, Madoff telah membuka mata kita bahwa 600 triliun itu tidak sedikit. Berapa ikat bayam dan berapa potong tempe akan kita dapatkan seandainya semua dibelanjakan kedua barang tersebut. Tapi, apa iya mereka yang telah menjadi korban Madoff doyan sayur bayam plus tempe goreng ?

Wallahu alam
Kajang, 20 Januari 2009
15:20 WIB

Pertamini

Adalah keinginan setiap orang tua agar anaknya bisa hidup enak, nyaman, sejahtera lahir dan batin. Dan salah satu ukuran yang biasa dipakai untuk mengindikasikan kesejahteraan adalah melimpahnya materi. Materi tidak bisa lepas dari latar belakang pekerjaan yang menjadi sumber materi tersebut, baik halal maupun haram. Sehingga hampir setiap orang tua selalu mendengungkan sebaris doa agar anak mereka mendapatkan pekerjaan yang layak, pada perusahaan besar, yang pada gilirannya akan mendatangkan rejeki berlimpah.

Perusahaan besar menjadi semacam garansi bahwa uang akan mengalir deras ke kantong mereka. Dan satu diantara sekian banyak perusahaan besar yang selalu diserbu calon pekerja adalah Pertamina, perusahaan pertambangan dan pengolahan minyak di Indonesia yang menguasai energi bahan bakar dari hulu hingga ke hilir. Dengan menjadi karyawan pertamina mereka yakin bahwa kelangsungan hidup mereka akan aman dan sejahtera secara ekonomi. Ringkasnya tidak ada kekuatiran akan mengalami kelaparan menghadapi sisa hidup yang dari waktu ke waktu semakin struggle ini.

Harapan untuk dapat mejadi karyawan atau pegawai pertamina juga pernah didengungkan oleh ibu saya almarhum. Dengan penuh harap beliau pernah menyampaikan bahwa akan menjadi sebuah kebanggan bagi beliau seandainya saya bisa diterima kerja di Pertamina. Beliau barangkali lupa bahwa saya sekolah di jurusan manajemen, jadi kalaupun bisa masuk Pertamina saya paling-paling akan duduk di jajaran distribusi, marketing atau adminstrasi. Tidak mungkin menangani kilang minyak di lepas pantai misalnya.

Saya cuma mengamini saja doa dan harapan ibu waktu itu, meski dalam hati ragu-ragu, gak yakin. Mungkin karena gak yakin itulah saya tidak bisa masuk ke pertamina dan justru memilih pekerjaan lain yang membutuhkan kerja super keras untuk bisa sekedar bertahan di dunia pemasaran yang terkadang demikian buas. Sampai-sampai muncul kalimat “Besok makan siapa?”. Tapi itu adalah jalan hidup yang memang seharusnya saya lalui. Tidak ada cerita berleha-leha dengan gaji berlimpah seperti keinginan almarhum ibu. Yang ada adalah kepasrahan total kepada Tuhan mengingat tidak pastinya keadaan isi kantong. Meskipun sudah saya siapkan banyak kantong, mulai dari celana, baju hingga tas namun pada kenyataannya tidak pernah terisi semuanya. In fact, hanya cukup untuk memenuhi kebutuhan saya sekeluarga.

Jadi, ketika butuh makan, cukup. Ketika butuh beli baju, cukup. Ketika butuh beli sepeda motor, cukup. Ketika perlu rumah untuk berteduh, cukup. Ketika perlu semen, bata, pasir dll untuk renovasi rumah, cukup. Ketika butuh kendaraan yang cukup untuk mengangkut kami sekeluarga berlima, cukup juga. Jadi, ajaib sekali kalimat cukup itu, lebih dari banyak atau melimpah. Sehingga lebih baik cukup daripada berlimpah.

Berangkat dari pesan ibu serta demi amanah ibu untuk bisa bekerja di pertamina maka sayapun berpikir dengan keras bagaimana caranya agar bisa bekerja di pertamina, di bagian apapun. Dari waktu ke waktu saya terus berpikir sampai pada kesimpulan bahwa saya tidak mungkin bisa masuk dan bekerja sebagai pegawai pertamina. Pertama saya tidak punya koneksi di pertamina, dan kedua usia saya sudah tidak memungkinkan untuk bisa seproduktif adik-adiik kelas saya.

Lalu muncul alternatif lain, yaitu mendirikan SPBU. Dalam pikiran saya, dengan mendirikan SPBU, saya tidak hanya bisa bekerja di pertamina tapi juga dapat mempekerjakan banyak orang, membantu beberapa orang yang belum bekerja. Jadi ada nuansa sosialnya, pasti akan menjadi manusia mulia, dan ibu di alam sana pasti akan lebih berbangga mendapati anak tersayangnya dapat melakukan perbuatan baik.

Saya pun melakukan riset, berkonsultasi kesana kemari untuk mengetahui seluk beluk per-SPBU-an. Singkatnya saya melakukan feasibility study atau studi kelayakan usaha SPBU. Beberapa bulan saya melakukan proses pembelajaran usaha SPBU. Kesimpulannya, saya mampu melaksanakan manajemen SPBU tapi saya tidak sanggup menyediakan dana sekian milyar untuk membebaskan lahan, investasi hardware-nya dan juga modal untuk kulakan premium, solar dan juga pertamaxnya.

Eh ya, investor…ya investor bisa dilibatkan, begitu pikir saya. Jadi saya tinggal meyakinkan investor dengan proposal yang saya bikin dengan perhitungan detail plus bumbu rayuan gombal bahwa dalam waktu sekian tahun invesatsi akan kembali modal alias BEP. Saya pun mulai menyusun list siapa saja yang bisa saya hubungi dan memiliki potensi untuk mau bekerjasama dengan saya. Sebulan dua bulan hingga setahun lebih saya mencoba kontak dengan beberapa orang yang saya anggap memiliki dana berlebih dengan nilai minimal 5 milyar.

Namun ternyata saya salah sangka, dari 20-an orang yang saya hubungi rata-rata merek tinggal di perumahan elit dengan rumah plus perabotan lux, PRT lebih dari 3 orang, garasi dipenuhi mobil ber-cc besar dll. Ternyata mereka pusing tujuh keliling memikirkan tanggungan kredit di bank yang nilainya ratusan juta bahkan ada beberapa yang memiliki hutang di bank lebih dari 10 milyar. Jadi, rencana mendirikan SPBU pun saya putuskan untuk diakhiri saja.

Saya masih berpikir keras bagaimana caranya dapat memenuhi keinginan ibu untuk bekerja di pertamina atau setidaknya bekerja di bidang yang ada kaitannya dengan pertamina. Dan, setelah sekian lamanya berpikir dan berusaha keras untuk bisa mewujudkan keinginan itu, akhirnya saya menyerah, putus asa dengan pertamina. Namun justrus saat saya menyerah itulah saya mendapatkan ide brilian. Pada sebuah malam yang dingin, saat hujan turun rintik-rintik kecil, tepat di saat saya menuntun sepeda motor saya karena kehabisan bensin, ide brilian itu muncul. Ya, benar…saya akan mendirikan pertamini, semacam pompa bensin tapi kecil (halah…semua juga tahu, itu lho kios bensin eceran). Cukup bermodal puluhan ribu saja bisa jalan. Yang diperlukan cuma beberapa botol bekas minuman keras ukuran 1 liter untuk wadah bensin, 1 jeriken plastik ukuran 10 – 25 liter untuk kulakan, 1 botol plastik bekas air minum mineral yang dipotong di dekat ujungnya sebagai pengganti corong serta beberapa potong kayu dan seng yang dibentuk rumah-rumahan, titik. Total 200 ribu, usaha pertamini bisa dimulai, murah meriah.

Sekarang saya bisa tenang menjalani hari-hari saya, keinginan ibu agar saya bisa bekerja di pertamina atau yang terkait dengan perusahaan minyak itu akhirnya terwujud. Bukan sebagai karyawan pertamina, bukan dengan mendirikan SPBU yang perlu dana milyaran melainkan mendirikan pertamini, siapa tahu 10 tahun ke depan bisa membeli SPBU. Amin….

Kajang, 23 Januari 2009
15:05 WIB

Perjalanan si Doku

Namaku Doku, singkat dan jelas kan ? Aku tidak memiliki orangtua, dan kenapa aku disebut Doku karena memang aku adalah selembar uang ketas seratus ribuan bergambar pak bung karno dan pak bung hatta yang terkenal itu.

Aku memiliki sekelumit kisah yang tersimpan rapi dalam memori kenanganku, dan kali ini sengaja aku buka supaya dapat berbagi pengalaman dengan siapa saja dan dimana saja. Tentang manfaat, ya berharap juga sih sebenarnya supaya dapat berguna, tetapi andaipun tidak juga tidak jadi soal. Sebab kadar kemanfaatan adalah nisbi bagi tiap orang. Artinya, boleh jadi sebuah perkara sangat bermanfaat bagi satu orang, namun dapat pula berarti sampah yang harus segera dibuang bagi orang lain. Ah, kok jadi berteori sih.

Aku mulai saja kisahku.
Kejadian ini aku alami tahun lalu, ya, 2008 adalah tahun yang luar biasa bagiku. Aku berpindah tangan tidak kurang dari 10 kali dan ada beberapa orang yang memegangku sangat berkesan bagiku. Singkatnya, aku benar-benar mengalami sebuah perjalanan yang penuh warna pada tahun 2008 tersebut. Dan beberapa orang yang sempat aku singgahi dompetnya sengaja aku angkat menjadi serangkaian cerita yang unik, menarik sekaligus ironis.

Tepat tahun baru aku keluar dari mesin anjungan tunai mandiri bersama 9 orang temanku yang lain. Aku sempat melihat orang yang menarikku adalah seorang pria yang berusia sekitar 50 tahun, agak tergesa dia menarikku dari mesin ATM pada pagi yang masih dingin itu. Selanjutnya akupun berdesakan dengan 9 temanku yang lain dalam sebuah dompet coklat kusam dan bau yang terselip dalam saku belakang celana panjang pria tersebut. Tidak terhitung berapa kali dia buang gas, baunya minta ampun. Mungkin tadi malam baru saja melewatkan malam pergantian tahun dengan menyantap aneka makanan yang campur aduk dan pagi tadi belum sempat buang hajat.

Selang beberapa saat kemudian, aku keluar dari dompet bersama 2 orang temanku, ternyata pak tua yang baru saja mengambilku dari mesin ATM tadi telah menukarkan aku dengan satu karung beras plus sekardus barang belanjaan kebutuhan keluarga lainnya yang aku sendiri tidak tahu detailnya. Maka, jadilah aku berpindah tuan, dari pak tua yang tadi mengambilku dari menin ATM kepada seorang ibu berjilbab yang duduk di belakang meja sambil terus menghitung, memilah serta menata kami dalam kelompok-kelompok kecil sehingga lebih mudah untuk dihitung kembali. Aku dikibas-kibaskan ke barang dagangan yang berada di depannya sambil berkata “laris-laris-laris”, khas juragan toko kelontonglah.

Cukup lama aku berada di brankas tradisional di dalam kamar milik ibu berjilbab yang dengkuran tidurnya seperti suara pesawat tempur Israel saat menghajar Palestina itu. Sekitar sebulan aku dan sekian ratus atau bahkan ribu temanku yang lain menginap di kotak kayu dengan gembok seukuran anak gajah. Pengap dan bau tentu saja. Bayangkan saja, kami dibendel dalam satuan yang memudahkan si ibu berjilbab tadi dalam merekap total jumlah kami dengan cara diikat dengan karet gelang, seperti dicekik rasanya. Kemudian, kami ditumpuk dengan kelompok-kelompok lain yang sudah ada sebelum kami, lalu ditumpuki lagi dengan kelompok lain yang datang setelah kami.

Belum lagi kami harus berdesakan dengan kelompok murahan seperti lima ribuan dan ribuan, sebel banget rasanya. Gak level bergaul dengan mereka. Rata-rata mereka kusam, bau, lecek, robek di sana-sini, bahkan beberapa ada yang penuh dengan graffiti seperti tulisan “tono love tini”, “cintaku seumur jagung”, “lofe is blaen” atau rekapan nomor togel kadang nangkring juga di badan mereka. Mereka seperti gerombolan buruh tani yang baru saja pulang dari sawah yang nyelonong masuk rumah tanpa membersihkan badan terlebih dulu. Benar-benar menjijikkan !

Akhirnya aku bisa bernafas lega. Setelah sebulan terkurung dalam kotak bau itu aku berpindah tangan. Kali ini aku begitu gembira karena dielus-elus oleh seorang perempuan putih cantik dengan tangan yang halus lembut, rambut sebahu dengan aroma wangi bunga yang memabukkan. Setelah dihitung kami dipilah-pilah lagi, kemudian ditata ulang dengan sangat halus oleh perempuan yang memakai kalung berliontin emas dengan rangkaian 4 huruf, “Vera”. Oh, ternyata aku pulang ke bank, ibu berjilbab yang aku tidak sempat tahu namanya dulu ternyata seorang pedagang yang menjadi nasabah bank tempat mBak Vera bekerja.

Hanya 3 jam aku bersama mBak Vera, sebab seorang gadis muda yang tidak kalah ayu dibanding mBak Vera melakukan tarik tunai dan aku menjadi bagian dari yang dihitung oleh mBak Vera lalu kemudian diserahkan kepada gadis ayu tersebut. Kami, senilai 10 juta berpindah tangan dari mBak Vera ke tas tangan psi gadis ayu itu setelah sebelumnya dimasukkan ke dalam amplop coklat bertuliskan nama bank tadi. Gadis ayu itu bergegas meninggalkan ruang bank yang sejuk ber-AC menuju mobil sedan yang terparkir rapi tepat di depan bank tersebut. Kami pun melesat tanpa tahu akan kemana lagi.

Sepertinya aku dan kawan lainya terseret masuk ke dalam cerita yang lebih seru. Dina, nama gadis ayu yang tadi mengeluarkan aku dari bank ternyata adalah seorang pecandu narkoba. Jadi, kami yang berjumlah 10 juta ditukar dengan barang yang aku tidak tahu namanya, yang jelas dari percakapan yang dilakukan oleh Dina dengan beberapa laki-laki di sebuah kafe malam itu jelas menerangkan bahwa barang yang mereka jual kepada Dina adalah barang bagus dan dijamin akan langsung “on” dalam waktu super cepat serta bisa tahan “hive” lebih lama. Oh Dina, dibalik kecantikan dan kehalusan tutur kata dan perilakumu ternyata kau menyimpan misteri yang menyesakkan, andai orang tuamu tahu, Din.

Ah sudahlah, lumrah terjadi kan, seseorang yang nampaknya baik tapi aslinya gak baik dan sebaliknya. Aku teruskan saja kisahku. Kami berpindah tangan ke komplotan pengedar narkoba. Mereka berjumlah 4 orang dengan hirarki yang aku sendiri tidak paham. Yang jelas, kami dibagi-bagi sesuai dengan tingkatan kedudukan mereka dalam organisasi kecil itu. Singkatnya, aku bersama 14 teman lain menjadi bagian dari seorang pria kurus berwajah lumayan ganteng bernama John. Dan nampaknya John hanyalah seorang kurir yang mendapat bagian paling sedikit diantara seluruh rekannya. Dalam struktur mereka kurir selalu mendapat bagian terkecil meskipun resiko tertangkap aparat paling besar. Apa boleh buat, itulah resiko yang harus dibayar oleh pengangguran seperti John.

Tanpa ba bi bu lagi John melipat kami berlima belas lalu tanpa ampun lagi kamipun masujk dalam saku jin belelnya yang kira-kira sudah sebulan tidak dicuci. Minta ampun baunya. John nampak tergesa-gesa meninggalkan rekan-rekannya, sepertinya sudah punya janji dengan seseorang sehingga takut terlambat. Dan benar saja, saat itu sekitar jam 10 malam dengan sepeda motornya John menuju lokalisasi yang berjarak 5 km dari tempat tinggalnya. Ternyata John sudah ngebet menyalurkan hasrat kelelakiannya. Basa-basi sebentar, tawar menawar harga lalu deal 150 ribu short time !

John bersama PSK yang disewanya masuk kamar penginapan di salah satu rumah di kawasan lokalisasi tersebut. Singkat kata hasrat John sudah terlampiaskan, lalu dia mengeluarkan 2 lembar ratusan ribu untuk melakukan pembayaran kepada perempuan yang mewiraswastakan tubuhnya tadi. 150 untuk biaya sewa bagian tubuh penting si perempuan dan 50 lagi untuk sewa kamarnya. Dan, sialnya aku berada dalam lipatan paling luar sehingga aku dan satu temanku lagi kembali berpindah tangan dari John ke Sonya, PSK yang disewa oleh John tadi. Dan, apesnya lagi ritual pedagang kembali aku alami. Hanya saja kali ini aku dikibas-kibaskan bahkan dengan agak kasar aku diusap-usapkan ke bagian tubuh yang disewakan oleh PSK tadi sambil menggumam “laris-laris-laris”. Kurang ajar benar, apa dia tidak tahu bahwa itu adalah pelecehan terhadap pak bung karno dan pak bung hatta. Mereka adalah proklamator yang harusnya dihargai dan bukannya diusap-usapkan ke wilayah itu. Aku sungguh kesal, apalagi setelah aku dapati bahwa di beberapa bagian tubuhku terdapat ceceran cairan yang menempel, duh…jijik aku. Aku menjadi bau sekarang, perempuan tidak tahu diuntung !

Semalaman aku tidak bisa tidur, aku marah karena badanku kotor oleh cairan yang tidak semestinya menempel. Tapi aku bisa apa? Aku tidak punya tangan untuk membersihkan cairan itu. Aku tidak kerasan bersama perempuan PSK ini, semoga besok pagi aku dibelanjakan.

Dan harapanku terwujud, esoknya sekitar jam 2 siang aku dipakai untuk membayar biaya creambath di salah satu salon kecantikan langganan PSK itu. Uhh…lega rasanya bisa berpisah dari perempuan laknat itu. Kini aku beralih ke mas yang seperti mbak pemilik salon Diva. Kata orang dia banci, waria, bencong atau bahasa kerennya komunitas transeksual. Fisiknya pria tapi kejiwaannya wanita, duh bingung ya jadi mereka. Bayangkan saja, mau masuk toilet saja serba salah kan.

Nama aslinya Dewa Baskara, tapi sejak hijrah dari desa 4 tahun lalu dia memakai nama Diva yang dia abadikan sebagai nama salon kecantikannya. Di desa dia dipanggil Dewo oleh emaknya. Dewo adalah seorang anak penurut yang berbakti kepada orang tuanya, dia yatim, bapaknya meninggal saat dia SD kelas 2. Tiap bulan selalu menyempatkan diri untuk pulang kampung menjenguk emakya, dan tentu saja kalau sudah desa selalu berpakaian laki-laki. Seperti sore itu, Diva atau Dewo sampai di rumah emaknya. Melihat Dewo datang emaknya langsung sumringah, sebab Dewo selalu memberi uang belanja kepadanya. Aku sampai trenyuh melihat hubungan anak-emak diantara mereka. Rasa kesalku akibat ulah PSK beberapa hari lalu terbayar dengan kisah berbaktinya Dewo kepada orang tuanya.

Dewo tidak pernah lama di kampung, bukan karena tidak kerasan, tapi lebih karena tidak tahan berlama-lama berlagak sebagai laki-laki. Dia tidak tahan dengan semua itu, dia merasa seperti membohongi dirinya sendiri. Esok paginya Dewo pamit pulang ke kota, dan seperti biasanya setelah sungkem kepada emak, Dewo memberikan beberapa lembar uang kertas kepada emaknya, ada ratusan ribu, lima puluhan dan juga puluhan ribu. Aku menjadi salah satu yang dialihtangankan oleh Dewo kepada emaknya.

Perlu diketahuhi bahwa ini adalah bulan Juli dan keadaanku tidak seperti saat aku keluar dari mesin ATM Januari lalu. Aku sudah tidak mulus lagi, banyak bekas lipatan di sana-sini, mulai kusam di beberapa bagian tubuhku, dan yang paling menjengkelkan tentu saja cairan menjijikkan ulah PSK yang menempel angkuh tepat di tengah-tengah antara gambar wajah pak bung karno dan pak bung hatta.

Sudah lebih sebulan aku ikut emaknya si Dewo, hidup khas pedesaan membuat aku dan 3 temanku tidak pernah dibelanjakan. Sebenarnya aku kerasan ikut emak Dewo, orangnya tidak pernah macam-macam. Hanya satu yang sering membuatku sulit bernafas, yaitu, emak selalu membawaku kemanapun dia pergi. Pergi kemanapun sebenarnya tidak menjadi soal bagiku, masalahnya adalah emak tidak memiliki dompet sehingga kami bertiga diselipkan begitu saja di penutup dada emak yang…yah, bisa dibayangkan sendirilah keadaanya. Orang usil akan bilang sudah kadaluwarsa. Kalau PSK itu yang melakukannya aku pasti tidak akan terima, tapi berhubung emak, aku bisa mafhum. Aku hanya merasa bosan saja, sudah hampir 2 bulan tinggal bareng emak tanpa pernah dibelanjakan.

Hari bahagia itu tiba juga. Setelah ikut emak 2 bulan 13 hari akhirnya aku dilepas oleh emak. Aku bersama 6 temanku dipakai untuk membeli sepasang kambing yang akan dipelihara sendiri oleh emak. Buat tabungan kata emak. Uh, lega juga bisa bernafas bebas, bisa lepas dari penutup dada yang sempit itu.

Aku berpindah tangan kepada juragan kambing. Namanya Haji Somad bin Abdul Gaffar. Biasa dipanggil Wak Kaji begitu saja. Dia sudah berhaji 8 kali. Tersohor karena kehajiannya, kelicikannya, dan kepelitannya. Wak kaji yang satu ini begitu berambisi bisa berhaji 9 kali. Sebab dia memiliki keyakinan dengan berhaji 9 kali maka pintu surga yang berisi 70 ribu bidadari akan terbuka lebar untuknya.

Sambil tertawa riang setelah menjawab salam emak Dewo yang pamit pulang menuntun 2 kambingnya, Wak kaji bergegas masuk kamar sambil membawa kami bertujuh untuk digabungkan dengan kawan-kawan kami yang telah berada di bawah kasur wak kaji lebih dulu.

Aku berada di tumpukan paling bawah diantara kami bertujuh. Wak kaji mulai menghitung, dia hitung ulang bendel demi bendel uang yang sudah dia susun dengan rapi sebelumnya sambil sesekali mencatat di kertas kecil yang terletak di sampingnya. Di sana tercatat 29.300.000, berarti kurang 700 ribu lagi supaya genap 30 juta untuk biaya ONH. Lalu mulailah wak kaji menghitung pelan-pelan kelompok kami yang sedari tadi seperti diabaikan. “empat ratus…lima ratus” gumam wak kaji sambil mengambil tumpukan kami satu demi satu “enam ratus…tujuh ratus…delapan ratus…semmmbiiiillllaaan ratus…..” sampai di angka sembilan ratus wak kaji berhenti. Dia mengamati aku yang berada di tumpukan paling bawah lama sekali. 30 detik berlalu…1 menit…dan akhirnya dengan mata berkaca-kaca wak kaji meraihku sambil berucap “Alhamdulillah, ya Allah Kau murahkan rejekiku sehingga aku bisa memenuhi panggilanMu sekali lagi…maka genaplah aku 9 kali mendatangi rumahMU ya Allah, bukakan pintu surgaMu lebar-lebar untuk hambamu ini. Hamba telah berusaha dan bersusah payah mengumpulkan rupiah demi rupiah demi menggapai surgaMu ya Allah…” Begitu rintih wak kaji lirih sambil memeluk aku, membelai aku, mengusap-usapkan aku ke seluruh bagian wajahnya, lalu diakhiri dengan menciumi aku tepat di tengah-tengah antara gambar wajah pak bung karno dan pak bung hatta.

Wallahu ,alam
Lantai 2 pratama A2/8
01:22 wib

Ketika Musim Diskon Tiba

Momentum lebaran adalah saat yang paling ditunggu oleh mayoritas masyarakat Indonesia khususnya di daerah saya. Bukan hanya umat islam, sebab lebaran sudah menjadi bagian dari budaya masyarakat secara luas. Mulai dari semangat silaturahmi melebur dosa sampai dengan hiruk-pikuk pelaku pasar yang super sibuk mempersiapkan segala kebutuhan lebaran bagi yang membutuhkannya.

Lebaran menjadi saat yang paling ditunggu karena saat itulah setiap orang dapat merasa dirinya kaya sehingga siap keluar uang berapapun untuk berbelanja. Kucuran gaji serta THR menjadi andalan para pekerja yang pada hari-hari biasa harus melakukan sekian kali hitung ulang sebelum memutuskan berbelanja barang-barang yang bukan kebutuhan utama.

Daya tarik utamanya adalah iming-iming diskon, potongan harga atau rabat yang dilakukan oleh hampir setiap pelaku pasar. Baik pedagang baju, makanan kecil hingga produk-produk lain sengaja memanfaatkan momen lebaran dengan melakukan potongan harga alias memberikan diskon kepada pelanggan mereka. Hal ini dirasa perlu selain untuk menarik minat calon pembeli juga untuk berbagi kebahagiaan setelah tujuan utama yaitu meraih keuntungan telah mereka lakukan selama satu tahun penuh.

Bahkan ada beberapa pelaku pasar yang dengan begitu berani memasang poster iming-iming diskon yang begitu menggoda, misalnya saja beli 1 gratis 1, 70% off, 70% + 25% dll. Itu semua mereka lakukan dalam upaya menarik pelanggan sebanyak mungkin, untung sebanyak mungkin.

Kultur baju baru

Masih tergambar jelas di ingatan masa kecil saya, bagaimana kerasnya tangisan teman masa kecil saya yang ngambek gara-gara tidak dibelikan baju baru oleh orang tuanya. Juga kenyataan selama ini yang secara pelan tapi pasti seakan mendoktrin bahwa lebaran itu berarti baju baru, celana baru, sepatu baru serta atribut-atribut lain yang juga baru. Semua dilakukan demi menyambut lebaran.

Kultur kita mengajari demikian. Kita jarang mendapatkan penjelasan secara rasional mengapa lebaran diidentikkan dengan baju baru, sehingga saat lebaran tiba itu berarti baju kita harus baru, tidak boleh tidak. Kalau tidak beli baju baru seperti ada yang kurang. Tidak peduli sedang krisis atau sedang sulit beli makan, yang penting lebaran kali ini baju harus baru, titik.

Perlu waktu panjang serta penanaman mental yang mendasar untuk menghapus tradisi beli baju baru. Meskipun tidak ada jeleknya juga membeli baju baru, hanya perlu dirasionalkan saja dalam proses mengatur pengeluaran keuangan keluarga. Apalagi bila kebutuhan yang lebih penting menjadi tuntutan yang tidak bisa ditunda.

Harga psikologis
Pedagang juga pintar memanfaatkan momen lebaran ini. Mereka melakukan apa saja yang dirasa perlu untuk dapat menarik minat calon pembeli. Satu teknik yang sering mereka pakai adalah penerapan harga psikologis. Harga yang tercantum pada baju atau dagangan mereka tidak bulat, tetapi dibuat mendekati. Misalnya, Rp. 99.900 dan bukan 100.000. Jadi calon pembeli akan merasa bahwa harganya tidak sampai 100 ribu, padahal jika pembeli melakukan pembayaran dengan uang 100 ribu maka uang kembalinya hanya 100 rupiah, itupun seringkali dikembalikan dalam bentuk sebiji permen.

Meskipun dalam momen lebaran harga tidak menjadi perhatian utama para pembeli, namun para pedagang tahu benar bahwa mereka harus berlomba menarik calon pembeli. Dan, selain pelayanan yang baik, menentukan harga menjadi perhatian para pedagang agar tidak kalah dalam bersaing dengan sesama pedagang yang hampir selalu memberikan diskon besar dalam momen lebaran tersebut.

Dalam kondisi perang harga, ternyata calon pembeli saat ini sudah sangat cerdas dalam melakukan pembelian. Mereka tidak asal melakukan pembelian dengan dasar iming-iming diskon. Kualitas barang dan juga pelayanan prima menjadi perhatian juga. Artinya, pembeli tahu posisinya sangat penting dalam setiap proses transaksi. Mereka telah melakukan proses belajar cukup lama sehingga saat memutuskan membeli sebuah barang, petimbangan merekapun sudah matang. Tidak melulu pada harga yang murah saja.

Refleksi tingkat kesejahteraan ?
Nah, terakhir, seringkali pertanyaan ini mengemuka, bisakah ramainya kondisi pasar saat lebaran dijadikan ukuran tingkat kesejahteraan yang telah cukup mapan ?

Untuk menjawabnya perlu melihat beberapa aspek. Namun, yang paling mudah adalah dengan mengamati kondisi pasar pasca lebaran. Bila masih saja seramai saat menjelang lebaran, bisa dipastikan ekonomi riil bergerak aktif. Namun bila ternyata kondisinya bertolak belakang, berarti fenomena memborong barang belanjaan yang dilakukan para pembeli menjelang lebaran tidak bisa dipakai sebagai ukuran tingkat kesejahteraan. Masyarakat hanya memanfaatkan momen “Ketika Musim Diskon Tiba”, tidak lebih.

Kajang, 23 Januari 2009
16:14 WIB

Haji

Bulan ini kata orang Jawa adalah bulan besar, kata orang Sunda dan Melayu bulan haji. Disebut bulan haji karena memang saat ini bertepatan dengan berkumpulnya 4 juta jamaah haji dari seluruh penjuru dunia di Mekkah al Mukaromah, tanah suci umat islam.

Kewajiban berhaji termaktub dalam rukun islam tepatnya yang kelima, detailnya berbunyi “Menunaikan ibadah haji bila mampu”. Kalimatnya jelas, bila mampu. Artinya ibadah haji berbeda dengan jenis ibadah yang lain karena bagi yang tinggal di belahan dunia yang berjauhan dengan Mekkah, maka berhaji butuh biaya besar dan butuh waktu yang tidak sedikit. Intinya pengorbanan yang dilakukan memang besar.

Dengan sedikit berpikir usil saya berpendapat bahwa selama ini kita telah ditipu oleh orang Arab. Bayangkan saja, untuk menggenapi rukun islam kita harus bersusah payah ke negeri mereka dengan biaya yang demikian mahal. Dengan iming-iming bisa mabrur serta mustajabnya doa serta pengharapan kita, terutama dalam tempo 40 hari sepulang dari Mekah.

Seakan telah tertanam di dalam otak kita bahwa dengan ber-Haji maka harkat dan martabat kita akan terangkat tinggi, setinggi yang kita angankan. Dengan berpeci putih lalu berkepala botak serta beberapa atribut lain sepulang haji maka kita akan mendapatkan imbalan yang demikian luar biasa dari Allah.

Benarkah demikian ? Memangnya Allah seperti yang kita duga ? Allah semurah itu, sedangkal itu ? Astaghfirullah….

Mari bertafakkur berdasar sejarah,
Adakah kita jumpai Rasulullah Muhammad SAW memakai gelar Haji ? Adakah para khulafaurrasyidin memakai gelar Haji ? Adakah para wali songo memakai gelar Haji ? Padahal beliau-beliau berada di garis terdepan dalam ber-Islam. Apakah kita tidak merasa malu dengan menyematkan gelar haji di depan nama kita ? Andai beliau-beliau itu masih ada…

Berasa aneh kan ? Kalau Rasulullah saja tidak memakai gelar haji lalu mengapa warga muslim di tanah air (hampir) selalu menambahkan satu huruf H di depan namanya ? Mengapa kemana-mana selalu mengenakan peci putih setelah pulang ihram ? Dan mengapa setiap didatangi oleh tamu lalu dimintai barokah doa selalu mengiyakan lalu langsung mengambil sikap menengadahkan tangan dengan mulut komat kamit seakan bisa merubah nasib seseorang ? Bila mau berpikir lebih lanjut bukankah itu semacam perilaku kesombongan (riya’), agar setiap orang yang bertemu denganya menyimpulkan bahwa dia telah ber-Haji.

Maka itu, secara cerdas kita harus melakukan perenungan kembali terhadap rukun islam yang kelima tersebut beserta segala hal yang menjadi implikasinya. Kita sudah rela melepas uang sekian puluh juta rupiah untuk menunaikan ibadah haji dengan harapan bisa menjadi haji mabrur. Tetapi apa yang kita dapatkan ? Benarkah kita telah mendapatkannya atau ternyata kita sekedar menjadi wisatawan yang justru membuat Kerajaan Arab semakin kaya dengan devisa yang mengalir deras ke kantong mereka selama musim haji ?

Wallahu ‘alam…perenungan-perenunangan yang kita lakukan bermanfaat untuk menuntun kita menuju taqwallah, menuju keadaan yang seharusnya terjadi untuk kita. Bukan kepada kondisi yang hanya sebatas angan, sebatas keinginan untuk memenuhi rukun islam, itba’ Rasulullah atau orang Arab kita tidak pernah bisa membedakan.

Oleh karena itu, menjadi penting bagi umat islam untuk lebih banyak melakukan perenungan, bertanya kepada pribadinya dan bukan melihat keadaan sekitar lalu ikut-ikutan yang justru seringkali hanya nampak bagus di kulit luarnya saja. Dengan begitu, maka kerelaan dan keikhlasan akan senantiasa menghiasi hati umat islam.

Pratama, 14 Januari 2008
20:29 WIB